Selasa, 01 Februari 2011

Kisah Sahabat Nabi "Ukasyah ra.

Madinah muram. Di setiap sudut rumah wajah-wajah tertunduk terpekur menatap tanah. Tak ada senyuman yang mengembang, atau senandung cinta yang dilantunkan para ibunda untuk membuai buah hatinya. Sebutir hari terus bergulir, namun semua tetap sama, kelabu.
Ujung waktu selalu saja hening, padahal biasanya kegembiraan mewarnai keseharian mereka. Padahal semangat selalu saja menjelma.
Namun kali ini, semuanya luruh. Tatapan-tatapan kosong, desah nafas berat yang terhembus bahkan titik-titik bening air mata keluar begitu mudah. Sahara menetaskan kesenyapan, lembah-lembah mengalunkan untaian keheningan. Kabar sakitnya manusia yang dicinta, itulah muasalnya.
Setelah peristiwa Haji Wada' kesehatan nabi Muhammad Saw memang menurun. Islam telah sempurna, tak akan ada lagi wahyu yang turun. Semula, kaum muslimin bergembira dengan hal ini. Hingga Abu Bakar mendesirkan angin kematian Rasulullah. Sahabat terdekat ini menyatakan bahwa kepergian kekasih Allah akan segera tiba dan saat itu adalah saat-saat perpisahan dengan purnama Madinah telah menjelang. Selanjutnya bayang-bayang akan kepergian sosok yang selalu dirindu sepanjang masa terus saja membayang, menjelma tirai penghalang dari banyak kegembiraan.
Dan masa pun berselang, masjid penuh sesak, kaum Muhajirin beserta Anshar. Semua berkumpul setelah Bilal memanggil mereka dengan suara adzan. Ada sosok cinta di sana, kekasih yang baru saja sembuh, yang membuat semua sahabat tak melewatkan kesempatan ini. Setelah mengimami shalat, nabi berdiri dengan anggun di atas mimbar. Suaranya basah, menyenandungkan puji dan kesyukuran kepada Allah yang Maha Pengasih. Senyap segera saja datang, mulut para sahabat tertutup rapat, semua menajamkan pendengaran menuntaskan kerinduan pada suara sang Nabi yang baru berada lagi. Semua menyiapkan hati, untuk disentuh serangkai hikmah. Selanjutnya Nabi bertanya.
"Duhai sahabat, kalian tahu umurku tak akan lagi panjang, Siapakah diantara kalian yang pernah merasa teraniaya oleh si lemah ini, bangkitlah sekarang untuk mengambil kisas, jangan kau tunggu hingga kiamat menjelang, karena sekarang itu lebih baik".
Semua yang hadir terdiam, semua mata menatap lekat Nabi yang terlihat lemah. Tak akan pernah ada dalam benak mereka perilaku Nabi yang terlihat janggal. Apapun yang dilakukan Nabi, selalu saja indah. Segala hal yang diperintahkannya, selalu membuihkan bening sari pati cinta. Tak akan rela sampai kapanpun, ada yang menyentuhnya meski hanya secuil jari kaki. Apapun akan digadaikan untuk membela Al-Musthafa.
Melihat semua yang terdiam, nabi mengulangi lagi ucapannya yang kedua kalinya, dan kali ini suaranya terdengar lebih keras. Masih saja terlihat para sahabat duduk tenang. Hingga ucapan yang ketiga kali, seorang laki-laki berdiri menuju Nabi. Dialah 'Ukasyah Ibnu Muhsin.
"Ya Rasul Allah, Dulu aku pernah bersamamu di perang Badar. Untaku dan untamu berdampingan, dan aku pun menghampirimu agar dapat menciummu, duhai kekasih Allah, Saat itu engkau melecutkan cambuk kepada untamu agar dapat berjalan lebih cepat, namun sesungguhnya engkau memukul lambung samping ku" ucap 'Ukasyah.

Mendengar ini Nabi pun menyuruh Bilal mengambil cambuk di rumah putri kesayangannya, Fatimah. Tampak keengganan menggelayuti Bilal, langkahnya terayun begitu berat, ingin sekali ia menolak perintah tersebut. Ia tidak ingin, cambuk yang dibawanya melecut tubuh kekasih yang baru saja sembuh. Namun ia juga tidak mau mengecewakan Rasulullah. Segera setelah sampai, cambuk diserahkannya kepada Rasul mulia. Dengan cepat cambuk berpindah ke tangan 'Ukasyah. Masjid seketika mendengung seperti sarang lebah.
Sekonyong-konyong melompatlah dua sosok dari barisan terdepan, melesat maju. Yang pertama berwajah sendu, janggutnya basah oleh air mata yang menderas sejak dari tadi, dia lah Abu Bakar. Dan yang kedua, sosok pemberani, yang ditakuti para musuhnya di medan pertempuran, Nabi menyapanya sebagai Umar Ibn Khattab. Gemetar mereka berkata:
"Hai 'Ukasyah, pukullah kami berdua, sesuka yang kau dera. Pilihlah bagian manapun yang paling kau ingin, kisaslah kami, jangan sekali-kali engkau pukul Rasul"
"Duduklah kalian sahabatku, Allah telah mengetahui kedudukan kalian", Nabi memberi perintah secara tegas. Ke dua sahabat itu lemah sangsai, langkahnya surut menuju tempat semula. Mereka pandangi sosok 'Ukasyah dengan pandangan memohon. 'Ukasyah tidak bergeming.
Melihat Umar dan Abu Bakar duduk kembali, Ali bin Abi thalib tak tinggal diam. Berdirilah ia di depan 'Ukasyah dengan berani.
"Hai hamba Allah, inilah aku yang masih hidup siap menggantikan kisas Rasul, inilah punggungku, ayunkan tanganmu sebanyak apapun, deralah aku"
"Allah Swt sesungguhnya tahu kedudukan dan niat mu duhai Ali, duduklah kembali" Tukas kekasih yang baru saja sembuh itu.
"Hai 'Ukasyah, engkau tahu, aku ini kakak-beradik, kami adalah cucu Rasulullah, kami darah dagingnya, bukankah ketika engkau mencambuk kami, itu artinya mengkisas Rasul juga", kini yang tampil di depan Ukasyah adalah Hasan dan Husain. Tetapi sama seperti sebelumnya Rasul menegur mereka. "Duhai penyejuk mata, aku tahu kecintaan kalian kepadaku. Duduklah".
Masjid kembali ditelan senyap. Banyak jantung yang berdegup kian cepat. Tak terhitung yang menahan nafas. 'Ukasyah tetap tegap menghadap Nabi. Kini tak ada lagi yang berdiri ingin menghalangi 'Ukasyah mengambil kisas. "Wahai 'Ukasyah, jika kau tetap berhasrat mengambil kisas, inilah Ragaku," Nabi selangkah maju mendekatinya.
"Ya Rasulullah, saat Engkau mencambukku, tak ada sehelai kainpun yang menghalangi lecutan cambuk itu". Tanpa berbicara, Nabi langsung melepaskan pakaian gamisnya yang telah memudar. Dan tersingkaplah tubuh suci Rasulullah. Seketika pekik takbir menggema, semua yang hadir menangis pedih.
Melihat tegap badan manusia yang di maksum itu, 'Ukasyah langsung menanggalkan cambuk dan berhambur ke tubuh Nabi. Sepenuh cinta direngkuhnya Nabi, sepuas keinginannya ia ciumi punggung Nabi begitu mesra. Gumpalan kerinduan yang mengkristal kepada beliau, dia tumpahkan saat itu. 'Ukasyah menangis gembira, 'Ukasyah bertasbih memuji Allah, 'Ukasyah berteriak haru, gemetar bibirnya berucap sendu, "Tebusanmu, jiwaku ya Rasul Allah, siapakah yang sampai hati mengkisas manusia indah sepertimu. Aku hanya berharap tubuhku melekat dengan tubuhmu hingga Allah dengan keistimewaan ini menjagaku dari sentuhan api neraka".
Dengan tersenyum, Nabi berkata: "Ketahuilah duhai manusia, barang siapa yang ingin melihat penduduk surga, maka lihatlah pribadi lelaki ini". 'Ukasyah langsung tersungkur dan bersujud memuji Allah. Sedangkan yang lain berebut mencium 'Ukasyah. Pekikan takbir menggema kembali. "Duhai, 'Ukasyah berbahagialah engkau telah dijamin Nabi sedemikian pasti, bergembiralah engkau, karena kelak engkau menjadi salah satu yang menemani Rasul di surga". Itulah yang kemudian dihembuskan semilir angin ke seluruh penjuru Madinah.
Maka alangkah indahnya saat manusia yang dicinta itu mau dikisas oleh sahabat 'Ukasyah Ibnu Muhsin, kita lah yang diperkenankan untuk menggantikan hujaman dera cambukan yang memilukan itu, yang membuat masjid kala itu mendengung seperti sarang lebah. Serta buliran air mata para sahabat yang tak terbendungkan lagi. sambil berucap "Tidak Ya Rasul Allah,aku saja sebagai ganti kisas yang akan dihujamkan oleh sahabat 'Ukasyah, pukullah aku, Andakain tubuhku hancur berkeping-keping asal engkau tiada luka sama sekali, siapa tega melihat goresan luka ditubuhmu oleh kisas yang akan dilakukan oleh sahabat terkasihmu 'Ukaysah. Maka relakan tubuh hamba hancur hanya untukmu Duhai Pemimpin Kami Duhai Utusan Allah"
Beranikah kita seperti itu ?
Adakah seseorang di akhir zaman mempertaruhkan nyawanya untuk Kekasih Allah tercinta itu, walaupun nyawa sebagai taruhan ? atau menyerahkan seluruh umurnya kepada Rasulullah ? bahkan lebih baik mati daripada hidup tiada manfaat ? apakah ada ? sangat jarang sekali orang seperti itu, mempertaruhkan nyawanya hanya untuk membuat tersenyum Sang Terkasih walaupun terasa berat dan menyakitkan oleh luncuran fitnah yang menghujam dada. malah yang ada hanya membuat pilu dan sedih Sang Terkasih itu dengan perbuatan anarkis yang tidak semestinya kita lakukan. Maka mustahil dan bagaimana mungkin kita akan membela Rasul yang Agung, Sedangkan cinta kita kepada Beliau untuk sementara adalah "PALSU".
Jangankan rela berkorban untuk di kisas, duduk untuk bermujahadah pun sulit, apalagi menangisi dosa untuk umat, yang ada justru merasa lebih baik dari yang lain. Ditambah lagi ucapan kita sebagai peluncur sumber fitnah. Dengan alasan merasa benar sampai menyakiti serta menjatuhkan antara satu kawan dengan yang lain.
Bagaimana kita mengaku sebagai kekasihnya Rasulullah ? pantaskah diri ini disebut sebagai umatnya ? apalagi disebut sebagai kekasih Rasul ? Sesuci inikah diri ini ?
Sampai kapan kita akan terus seperti ini ? apakah sampai menunggu datangnya izroil menjemput baru kita sadar ? ataukah sampai Beliau Rasulullah dan Beliau Muallif Sholawat Wahidiyah menangis dengan tingkah laku kita yang busuk, munafek dan memalukan itu ? marilah kita koreksi kedalam, jangan melihat keluar.
Sekali lagi jangan melihat keluar dan merasa benar sendiri !
Sudalah, mari kita kenang dosa-dosa kita yang pernah kita ukir dimasa lalu sebelum kita dituntut diakherat nanti, kita kenang dosa terhadap ayah dan ibu kita yang sering kita sakiti, bayangkanlah wajah beliau yang sudah tampak kusam, memudar dan mengeriput serta rambutnya mulai memutih dan tinggal menunggu waktu izroil datang untuk menjemput atau ibu dan ayah kita yang sudah tergeletak terbujur kaku diatas batu nisan dan kita hanya bisa meratap, memandang serta menangisi kesalahan yang pernah kita ukir dimasa lampau, dan kita yang belum sampai meminta maaf kepada beliau berdua yang terburu meninggalkan kita untuk selama-lamanya.
(Tolong sekali lagi resapi dengan perasaan yang sungguh-sungguh)
begitu pula dosa terhadap teman seperjuangan yang senantiasa kita dholimi dengan ucapan kita sehingga terjadi perpecahan dan permusuhan dan timbul suatu fitnah serta merasa paling benar sendiri, dan terutama dosa terhadap umat jamial alamin, karena ketidakmampuan dan kemaun kita untuk menyampaikan ilmu wahidiyah yang suci ini, bahkan yang lebih parah lagi kita sebut asmaNya tapi lupa ! , kita sembah Dia tapi dengan kesombongan !, kita puji Dia tapi dengan kebohongan !.
Maka janganlah berpura-pura, berkedok sebagai "Pejuang Wahidiyah",akan tetapi didalam busuk dipenuhi belatung-belatung kemunafekan, dan jangan pula menipu diri sebagai pejuang "Agama Allah" , kalau kita benar-benar kasih dengan jasad dan roh kita, janganlah sekali-kali menipu diri, roh akan menangis bila kita bohong.
Renungan Dasyat dari sahabat 'Ukhasyah untuk hati penuh dengan Kemunafekan !

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar